Theme Preview Rss
ASAL USUL ORANG UTAN

Nama “Orang utan” berasal dari dua kata Melayu, yaitu orang dan hutan, yaitu kera manusia yang berkerabat dengan simpanse, gorilla dan manusia. Ada dua subspecies yaitu orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus pygmaeus) dan orangutan Sumatera (Pongo pygmaeus abelii). Perbedaan antara keduanya hanya sedikit, sehingga sulit menentukan asal usul seekor orangutan hidup, apakah orangutan Kalimantan atau orangutan Sumatera. Subspecies Sumatera tampaknya sedikit lebih besar, dan warnanya sedikit lebih muda daripada spesies Kalimantan.


Orangutan jantan mempunyai ukuran tinggi tubuh 137 cm dan beratnya 60-90 kg, sedang yang betina mempunyai tinggi tubuh 115 cm dan berat 40-50 kg. Berat badan jantan dua kali berat badan betina. Bulu-bulu orangutan terdiri atas bulu kasar dan panjang; dibagian lengan dan bahu panjang bulu ini dapat mencapai 0,5 m. Terdapat berbagai nuansa warna, dari jingga sampai merah ungu atau coklat kehitam-hitaman, umumnya lebih gelap kalau makin tua, kulitnya liat dan tertutup papil-papil, warnanya cokelat tua sampai hitam dan terdapat bercak-bercak tidak teratur. Pada orangutan jantan dewasa terdapat sedikit bulu berwarna jingga terang di bibir atas dan dagu dan pada kedua sisi bagian muka terdapat gelambir pipi yang terdiri dari jaringan ikat dan lemak.

Orangutan mempunyai suatu rumus gigi kera manusia yang khas dengan 32 buah gigi. Mahkota geraham mempunyai lipatan sekunder dalam email, dan geraham yang berlebih pada orangutan sering terjadi. Pertumbuhan gigi berlangsung sejak umur 5 bulan sampai geraham-geraham permanent muncul pada umur 4 tahun. Gigi dan geraham lain mulai muncul pada akhir tahun kelima, gigi taring dan geraham ketiga muncul terakhir. Gigi-geligi baru lengkap setelah menginjak dewasa yaitu pada umur 12-15 tahun.


Seperti semua kera besar, orangutan adalah hewan pemanjat dengan empat kaki. Walaupun sanggup bergerak di tanah, sebagian hidupnya dihabiskan di atas pohon, memanjat dengan menggunkaln bagian kulit pohon yang tidak rata, memautkan jari-jari tangan dan kaki lalu bergerak dengan hati-hati tanpa terdengar melewati lapisan-lapisan tengah hutan.

Selanjutnya berjalan melalui dahan dengan keempat atau kedua kaki, tangan diangkat di atas kepala, lalu bergerak maju sambil menjaga keseimbangan dengan cara berayun perlahan-lahan. Berat badan digunakan untuk melengkungkan pohon dan dahan sesuai dengan arah yang dikehendaki.

Untuk jarak dekat hewan ini hanya menggunakan kedua lengan (dengan kaki menggantung bebas) terutama bila hendak melarikan diri dari satu pohon ke pohon yang lain. Orangutan tidak pernah melompat. Kalau hendak turun dari pohon dilakukan sambil mundur atau meluncur sedikit demi sedikit.

0 comments:

Post a Comment